
“Ass. O, apa karena kami mendzalimimu sehingga hidup kami susah. Maafkan kami….”
Sejenak saya tertegun membaca pesan pendek yang dikirim salah satu teman. Begitu berat beban yang dipikulnya. Bahkan ketika saya sudah menganggap apa yang terjadi sebagai satu bentuk kewajaran hidup, dia masih membawa beban itu sepanjang hari-harinya.
Harus jawab apa ya. Akhirnya jawaban inilah yang terkirim, “Berdoalah yang terbaik. Malam tak kan selamanya kan. Fajar pasti datang. Sttttt, kita sedang digembleng biar segera naik kelas…..”
Saya fikir jawaban itu mampu menghentikannya. Ternyata dia menyambung ceritanya dengan deretan peristiwa yang membuat saya bergidik. Masya Allah, andai saya di dekatnya akan saya nyanyikan keras-keras Jangan Menyerah-nya D’Masiv.
“Insya Allah selalu ada doa terbaik untuk kalian. Saya yakin kalian bisa bangkit cepat. Just believe it”.
Kata-kata itu saja akhirnya yang terkirim. Karena saya tak tau lagi harus berkata apa.
“Terima kasih, amiiin. Semoga ALLAH bahagiakanmu…WE miss u…”
Belum semenit saya bernapas lega, tiba-tiba satu pesan masuk lagi. Ah, semoga kabar baik…
“Jeng Ona, maafkan. Aku nggak jadi ikut ya. Ada masalah yang harus kuselesaikan dengan suamiku. Lagi tegangan tinggi nih. Semoga lancar acaranya. Doakan juga, semoga segera adem keluarga kecilku”.
Yah, lagi-lagi masalah. Heran, dua hari ini topic yang sering masuk adalah masalah keluarga. Mulai dari yang sekedar cerita, sampai yang minta bantuan solusi. Yang sudah nikah sebenarnya siapa coba. Mestinya mereka kan yang lebih pengalaman. Lha wong sudah menjalani. Alasan mereka pun sering klasik ketika saya coba mengelak dengan alasan rung duwe pengalaman. “Justru kami membutuhkan side opinion dari yang fresh, Jeng. Yang belum terkontaminasi….” Halah……………………..
Dunia, dunia. Seumpama panggung sandiwara yang penuh dengan cerita. Senang, sedih, silih berganti tiada henti. Lantas, mestikah kita menyerah ketika kita ada di masa menguras airmata? Semestinya tidak. Jika menyerah pilihan kita, tak kan pernah kita lihat indah fajar pagi menjelang setelah pekatnya malam. Ya kan…
Masalah. Tak kan pernah habis ketika kita bicara masalah. Begitu pandai kita mengurai masalah. Mulai dari yang benar-benar ada, tampak nyata, yang samar, tersembunyi, sampai yang sebenarnya nihil tapi kemudian diada-adakan untuk kepentingan tertentu. Apapun itu, tetap saja masalah akan menimbulkan dampak bagi siapapun yang mendapat sampur kehormatan atasnya.
Beberapa waktu lalu, iseng saya “memaksa” beberapa teman bicara tentang masalah. Penyemangat apa yang membuat mereka bangkit. Nah, beberapa teman menuliskan kata-kata yang seringkali mereka gunakan untuk menyemangati diri untuk bangkit. Yuk kita intip apa kata mereka….
Masalah, jangan ditaruh di punggung hingga jadi beban yang memberatkan. Masalah, taruhlah di bawah sebagai pijakan ( A dari Aa’ Gym)
Jadilah seperti bamboo. Jika ditimpa angin keras, ia ikut kemana angin bertiup. Tapi itu dilakukan untuk kemudian tegak berdiri lagi. Batang bamboo tetap lurus walaupun ia sering meliukkan tubuhnya… (B dari Ustadz Syatori)
Allah memberi pelangi di setiap badai, senyum di setiap air mata, lagu indah di setiap hembusan napas, berkah di setiap cobaan, dan jawaban indah di setiap doa (M entah dari mana)
Setiap masalah memiliki benih-benih dari solusinya sendiri. Kalau kita tidak memiliki masalah apapun, kita takkan mendapatkan benih apapun (Y entah dari mana)
Anak-anak punya pelajaran yang seharusnya dipelajari oleh orang dewasa. Agar tidak merasa malu bila gagal, melainkan bangun dan mencoba lagi (M dari Malcolm X)
Jangan tanya kapan, tapi keajaiban akan datang menghampiri orang yang selalu melakukan yang terbaik, buat dirinya sendiri maupun orang lain (H dari Hellen Keller)
Perbedaan antara hambatan dan kesempatan terletak pada sikap kita dalam memandangnya. Selalu ada kesulitan dalam kesempatan dan selalu ada kesempatan dalam setiap kesulitan (E entah dari mana)
Jadikan pelangi kehidupan lebih indah dengan menyempurnakan ikhtiar dan memanjangkan doa, menatap masa depan dengan langkah sempurna, memandang masalah dengan ketegaran, memetik kesempatan dengan kesungguhan, menyusuri tikungan perjalanan dengan lentera kesabaran. Sesungguhnya Allah telah menetapkan segala sesuatu untuk hambanya. Bekerjalah terus, maka Allah akan memudahkan (A entah dari mana)
Kesalahan terbesar yang pernah dibuat seseorang adalah takut membuat kesalahan. Just do what should you do (E entah dari mana)
Patient means we accept and submit in God willingness and keep do the best (A entah dari mana)
Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu. Mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka. Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu. Engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu (C entah dari mana)
Itu beberapa kata-kata penyemangat teman-teman saya yang sempat saya catat. Intinya menurut saya, apapun masalahnya, siapapun Anda, jangan menyerah. Akan indah pada waktunya. I believe… Allah memberikan apa yang kita perlukan. Mungkin yang diberikan pada kita adalah ulat bulu., bukan kucing siam seperti yang kita minta. Tapi jika kita mampu bersabar, akan kita dapatkan kupu-kupu yang bukan saja cantik, tapi punya kemanfaatan besar untuk alam semesta... (hehe…ini nasehat untuk diri sendiri lebih tepatnya).
Nah, bagaimana dengan Anda..? Let’s share………..
add.
marhaban ya ramadhan. semoga terlepas segala jerat masalah yang mengungkung jiwa. selamat berpuasa, mohon maaf untuk semua khilaf...
Selengkapnya...
Friday, August 21, 2009
Karena Malam Pasti Kan Berganti Fajar
Sunday, August 2, 2009
Creative Theme Day #3 : The Mahkota Dewa, 100% Creative Indonesia
Apa kabar teman-teman. Seminggu sudah saya dan 74 rekan yang lain dikarantina di Wisma Batik Yogyakarta. Ceritanya, kami mengikuti pelatihan yang diadakan oleh Disnakertrans Propinsi DIY yang bertajuk Bimbingan Teknis untuk “Tenaga Kerja Pemuda Mandiri Profesional”. Nah, tepat di hari ke-8 inilah kami diperbolehkan pulang. Hmm, dunia, I’m back……
Banyak hal yang kami dapatkan selama seminggu ini. Salah satu moment paling berkesan adalah ketika kami berkunjung ke seorang pengusaha kreatif di Kulon Progo, yang telah berhasil membawa produk obat tradisional Indonesia ke dunia internasional. Cerita menarik tentang beliau, tersaji lengkap dalam rangka mendukung “Creative Theme Day : 100% Creative Indonesia”.
Pukul 08.45, bus yang membawa rombongan anak-anak TKPMP ini meluncur meninggalkan Wisma Batik. Perjalanan 45 menit, sampailah kami ke tempat tujuan. Sempat saya tebak-tebakan dengan seorang teman, apa yang pertama kali akan kami lihat di rumah beliau. Teman saya mengatakan, “halah, paling yo sama aja dengan tempat pengrajin yang lain. Berantakan dan semrawut.”
“Kalau begitu, aku nebak sebaliknya. Kita akan melihat hal yang sensational”, saya memilih vis a vis, berseberangan dengan teman saya.
Sampai di sana, mata kami terbelalak. Kami disuguhi pemandangan yang tak pernah terlintas di otak kami. wow, ini mah sangat sensational. Harley Davidson di depan rumah nampak angkuh menyambut kami. Bukan hanya itu saja. Beberapa ekor kuda cantik langsung merebut perhatian kami. Saya langsung teringat pada “Jimbron, Aray dan Ikal”, 3 tokoh dalam “Sang Pemimpi” karya Andrea Hirata. Mungkin reaksi kami tak seheboh reaksi mereka saat melihat Pangeran Mustika Raja Brana dan 6 kuda lain didatangkan Capo dari Australia. Tapi yakinlah, kami terlihat sangat “ndeso”. Mulut melongo seperti tak pernah melihat kuda sebelumnya. Padahal di Jogja kuda juga banyak berkeliaran. Tapi ini memang jenis kuda yang berbeda. So wonderful…
.
Ketika kami masih terpaku mengagumi kuda-kuda cantik dan Harley Davidson, tiba-tiba muncul sosok sederhana bersunggingkan senyuman ramah. Dengan jabat tangan erat, disambutnya kami penuh kasih. Waduh, pikiran kami serasa dibalik-balik dengan cepat. Kuda dan Harley adalah lambang kemakmuran. Tapi sejurus kemudian, kesederhaanlah yang kami dapati.
Haji Maryono. Sosok sederhana inilah yang telah berhasil membawa produk obat tradisional Indonesia ke dunia internasional. Teh Mahkota Dewa. Ya, produk inilah yang dikembangkan oleh beliau. Di bawah bendera “Salama Nusantara” beliau menyebarkan produk obat tradisional ini ke berbagai belahan dunia.
Semua berawal dari keinginan yang kuat. Ketika kau menginginkan sesuatu dengan segenap dirimu, maka seluruh alam semesta akan bersatu membantumu meraihnya. Dan Allah tinggal berkata, Kun fayakun. Mungkin seperti itulah gambarannya. Pak Maryono punya keinginan kuat mengembangkan kemandirian masyarakat berbasis potensi local. Keinginan kuat itu terus dikumandangkan ke semesta. Akhirnya, satu persatu jalanpun terbuka. Mulai dari gerakan penghijauan Bukit Menorah dengan Mahkota Dewa yang dilakukan oleh satu LSM, mendapat ilmu tentang khasiat mahkota dewa di Gramedia, bertemu professor yang memberikan landas teori, bertemu dengan lembaga pemberdayaan masyarakat yang mendampingi secara praksisnya, bertemu dengan orang-orang yang memberikan kepercayaan penuh pada beliau.
Singkat cerita, tangan kreatif itu terus bergerak. Menebarkan kesehatan pada banyak orang, menawarkan kesembuhan pada banyak penyakit. Bukan perkara mudah, karena beliau juga harus membayar harganya. Menerjemahkan ide-ide pemasaran liar yang berkecamuk di kepala ke dataran riil. Mengirim paket Mahkota Dewa pada Gus Dur dan berbagai tokoh yang lain, artis, dan orang-orang berpengaruh yang lainnya adalah contoh keliaran ide beliau. Bisa dibayangkan, begitu pucuknya kena, maka tinggal tunggu waktu saja untuk memanen hasilnya.
Kegigihan, keuletan, keberanian, kesabaran dan kesetiaan pada keyakinan akhirnya mengantar beliau pada kehidupan yang sebelumnya tak pernah dibayangkan. Menyentuh tingginya langit, namun kaki tetap berpijak di bumi. Saya kira apa yang beliau lakukan adalah satu dari sekian banyak karya kreatif anak bangsa. Karya kreatif 100% Indonesia. Bagaimana menurut Anda….?
Catt.
Tribute to insan kreatif Indonesia
Selamat untuk lahirnya PPMY
3 hari menjelang Jogja Fashion Week 2009
Dipersembahkan untuk Creative Theme Day
Selengkapnya...
Saturday, July 25, 2009
Never Ending Learning
Shelter Kridosono Bus Trans Jogja
“Lho, kok lebar sekali Mas. Mosok saya harus lompat. Aman nggak”, tanya saya diliputi keheranan. Tidak biasanya posisi transit Bus Trans Jogja seperti itu.
“Maaf Mba, harap maklum. Sopir baru. Baru latihan. Saya jaga kok. Insya Allah aman”, sang pramugara berusaha meyakinkan saya. Terpaksa saya melompati jarak selebar hampir satu meter.
“Di Trans Jogja juga ada PAW tho Mas. Seperti anggota DPR saja”, tanya saya asal.
“Ah, Mbak itu ada-ada saja. Ini memang ada penambahan kru baru Mbak. Untuk persiapan penambahan jalur Trans Jogja”, jawab Mas Pramugara. Maka perjalanan selanjutnya adalah mengikuti asyiknya proses belajar Pak Sopir baru.
Shelter Mandala Krida
“Masih kurang dekat ya Di. Kurang berapa kira-kira”, tanya Pak Sopir.
“Masih kurang banyak Pak. Tiga puluh centi lagi kira-kira. Asal di awal dipaskan dengan jalur putih, biasanya pas kok Pak”, jawab Mas Pramugara.
“Wah, aku masih takut Di. Takut malah kebablasen”, Pak Sopir beralasan.
“Nggak apa-apa Pak. Lama-lama nanti juga terbiasa kok. Di awal dulu sopir yang lain juga seperti itu. Takut terlampau mepet. Tapi lama-lama akhirnya bisa merasakan dengan sendirinya. Pasnya ada di mana”, Mas Pramugara berusaha membesarkan hati Pak Sopir baru.
Saya tersenyum mendengar perbincangan mereka. Tidak salah perusahaan memilih Mas Pramugara itu untuk mendampingi proses belajar Pak Sopir Baru. Tidak mudah lho menemukan pelatih sesabar itu. Yang mendampingi tanpa menggurui. Yang memberi solusi tanpa mencaci.
Pak Sopir baru terus belajar menguasai medan. Mas Pramugara setia mendampingi. Saya, akhirnya memilih bergabung bersama mereka. Menyemangati Pak Sopir yang sedang belajar. Tertawa bersama, khawatir bersama, dan ternyata sangat mengasyikkan. Bus yang hanya berisikan lima penumpang membuat suasana justru menjadi semakin gayeng. Entah, sepertinya Sang Pengatur sengaja memberi kesempatan pada kami untuk menikmati perjalanan exlusive ini.
He, saya jadi ingat proses belajar ketika membangun blog ini. Tertawa sendiri ketika menemui jalan buntu, bertepuk tangan sendiri ketika berhasil memasang fasilitas read more (fasilitas pertama yang berhasil saya pasang), manyun sendiri ketika tak jua berhasil mencari kode html dan banyak kelucuan yang lain. Sayangnya saya sendirian saja menikmatinya. Tak ada Pak Sopir, Mas Pramugara dan empat penumpang lain yang memberi support (lho, apa hubungannya… ). Tapi, ketika akhirnya berhasil melewati prosesnya, rasanya exciting banget. Meski proses itu masih harus berlanjut, karena perjalanan belum berakhir. Bahkan baru saja dimulai….
Tak terasa sembilan shelter sudah kami lewati. Pelan tapi pasti Pak Sopir membuat kemajuan dalam proses belajarnya. Tepat di shelter ke-10, saya harus pamit undur dari proses belajar ini. Dan saya bahagia sekali, karena Pak Sopir baru memberikan hadiah indah. Beliau berhasil menempatkan bus di jalur transit dengan sempurna. Kami bertepuk tangan untuk capaian ini.
Hmm, jalanan memang menyediakan banyak hal yang bisa diambil hikmahnya. Untuk siapa saja yang mau dan mampu mengambil peluangnya tentu saja. Karena tak semua orang mau dan mampu melakukannya. Meskipun peluang itu begitu besar terpampang di depan mata. Ada yang mau tapi tidak mampu. Ada pula yang mampu tapi tidak mau. Akhirnya kembali ke pilihan masing-masing.
Nah, proses menarik apa yang Anda temukan di jalanan hari ini? Mari berbagi….
Selengkapnya...
Tuesday, July 14, 2009
Manajemen Stress Rasa Gado-gado

“Hmm, tekanan darah 125. Tensi 39. Agak tinggi tekanan darah dan tensinya”.
“Tekanan darahnya kok tinggi, Dok. Saya biasanya di bawah 120. Selama ini lebih sering tekanan darahnya rendah. Kok tiba-tiba bisa tinggi. Ini baru pertama kalinya Dok”.
“Saya tidak tahu Mbak sedang menghadapi masalah apa. Tapi saran saya, jangan terlalu dipikirkan. Karena itu yang membuat Mbak stress. Dan itu menyebabkan Mbak mudah sakit”.
“Apa? Jadi saya mudah ngedrop karena stress? Dokter sedang tidak bercanda kan? Lha saya stress mikir apa. Perasaan saya tidak sedang menghadapi masalah yang begitu berat. Tapi memang beberapa hari ini saya tidak bisa tidur. Saya juga ndak tahu kenapa. Saya tidak memikirkan apa-apa tapi saya seperti memikirkan sesuatu. Dan itu membuat saya tidak bisa tidur.”
“Kondisi seperti itu memang bisa memicu naiknya tekanan darah. Untuk sementara saya kasih resep ini dulu. Besok malam tolong kesini lagi. Kita cek lagi tekanan darahnya. Kalau sudah normal, silahkan beraktivitas lagi. Tapi ingat, perbanyak istirahat. Jangan diforsir.
“Terima kasih Dok……”
………………………………………………………………………………………………
Hmm, stress. Satu kata yang sering sekali saya dengar saat berkumpul, berbincang dengan teman-teman. Kata ini begitu mudah terlontar dari mulut mereka. Dan sekarang saya mengalaminya sendiri. Poor me….
Stress. Apa sih sebenarnya stress itu. Jadi penasaran. Let’s see. Apa yang dikatakan wikipedia tentang stress.
Stres adalah suatu kondisi atau keadaan tubuh yang terganggu karena tekanan psikologis. Biasanya stres dikaitkan bukan karena penyakit fisik tetapi lebih mengenai kejiwaan. Akan tetapi karena pengaruh stres tersebut maka penyakit fisik bisa muncul akibat lemahnya dan rendahnya daya tahan tubuh pada saat tersebut.
Banyak hal yang bisa memicu stres muncul seperti rasa khawatir, perasaan kesal, kecapekan, frustasi, perasaan tertekan, kesedihan, pekerjaan yang berlebihan, Pre Menstrual Syndrome (PMS), terlalu fokus pada suatu hal, perasaan bingung, berduka cita dan juga rasa takut.
Hmm, kalau secara devinisi tepat banget tuh dengan kondisi saya. Tapi kalau tentang pemicunya… nah, ini yang membingungkan. Karena saya sendiri tidak tahu secara pasti apa penyebabnya. Hmm, dari pada bingung mencari penyebabnya, lebih baik focus ke solusi kan. Tapi karena saya juga bingung, akhirnya saya memilih bertanya pada beberapa teman. Nah, berikut ini adalah jawaban dari mereka. Beberapa hal yang biasa dilakukan ketika mereka stress.
1. Kalau Arie berenang Mbak. Habis berenang makan bakso hangat… (Arie).
2. Ambil air wudhu + baca Al Qur’an. Berdoa sesudahnya minta ketenangan batin dan mohon petunjuk. Bila malam hari bangun tahajud + shalat hajat minta bantuan (Mas Arief).
3. Tenang, ambil wudlu kalau memungkinkan kemudian alihkan perhatian yang membuat happy. Beralih dari tempat yang membuat stress. Anda akan kembali besok dengan lebih baik (Mas Marsi).
4. Tidur…..or ngaji….or jalan-jalan (Kak Mukhlis)
5. Sharing ma teman dekat, banyakin doa, cari udara segar, refreshing kek kemana. Cari suasana lain (Non Yuli)
6. Kalau lagi jutek/stress/bete, aku biasanya terus njalani kerjaan atau apapun yang menyebabkan stress dengan sekuat tenaga, pikiran dan psikis. Terkadang berdoa sampai nangis kalau berat banget (dengan kondisi berat badan turun, muka tidak cerah, kurus) sampai kelar dan tuntas. Habis semua selesai, dunia cerah lagi. Alhamdulillah…selalu ada karunia setelah masa cobaan (Mas Thres)
7. Jika aku lagi stress yang aku lakukan biasanya pergi ke suatu tempat buat merenung, nenangin pikiran sekaligus cari hiburan. Kalau nggak, aku cerita sama seseorang yang dekat alias curhat (Teh Eka)
8. Wudhu…. Sholat……curhatlah sama Gusti Allah…. (Nifa)
9. Cari sumber stress, kaji kenapa bikin stress, renungkan, jangan hindari tapi jadikan mitra. Insya Allah kau kan tertawakan diri yang stress tu (Mas Liek)
10. The best way biasanya sholat sunat, ngaji. Kalau tidak memungkinkan, ya merubah, secara ekstrim jika perlu, our mind-body-soul. The best person always take the best way (Mas Cahyadi)
11. Aku biasanya dan hampir pasti, jalan-jalan lihat sawah dan gunung di magelang di pagi hari habis subuh. Dahsyat penaruhnya…..(Kang Adib).
12. Ada beberapa hal yang biasa saya lakukan : baca Qur’an dan maknanya. Bertemu dengan orang yang dekat secara perasaan tapi jarang ketemu secara fisik. Biasanya itu sudah cukup. Atau bertemu dengan orang sholeh dan bercakap dengannya. Biasanya itu untuk transfer energi. Nek kuwi susah to yu, njenengan teko neng ndalan. Ndeleng orang-orang miskin dan fakir. Atau orang-orang yang sangat tua tapi masih harus mencari rizqi sendiri. Orang stress itu karena terlalu focus pada diri sendiri. Maka alihkan hatimu…. Untuk memikirkan orang lain.. hehe…(Kang Huda)
13. Kalau lagi stress, push up sampe jelek (Ka’ Rien).
Hmm, itu tadi cara ngatasin stress ala teman-teman saya. So, cara seperti apakah yang biasa Anda lakukan untuk atasi stress? Mari berbagi…………..
catt.
*gambar diambil dari sini
*terima kasih untuk teman-teman yang bersedia meluangkan waktu menjawab pertanyaan aneh di siang hari
Selengkapnya...
Wednesday, July 1, 2009
Creative Theme Day #2 : Obral Obrol Janji

Senja memerah di Kota Jogja. Kinanthi menyusuri “karpet merah” menuju Siti Hinggil Kraton Yogyakarta. Entah, sore ini dia ingin sekali membaur dengan barisan orang-orang yang bergegas menyeberangi Alun-Alun Utara itu. Berkali-kali dia hampir terjatuh, tersenggol orang-orang yang sepertinya tak mau kehilangan waktu sedetikpun. Jogja memiliki terlampau banyak tempat wisata yang sayang untuk dilewatkan. Padahal waktu mereka terbatas. Jadi beginilah mereka, jalan bergegas-gegas seperti prajurit yang mau maju ke medan perang.
Kinanthi mencoba menegakkan langkahnya. Suara-suara berdengung di sekelilingnya seperti membaur dengan suara-suara di kepalanya. Dan ini memang saat-saat yang dia tunggu. Suara-suara itu jalin-menjalin, seperti berperang saling rebut kuasa atas dirinya. Kinanthi sangat berharap, suara-suara di kepalanya lah yang kalah. Suara-suara yang membuatnya lelah. Kinanthi berharap, suara-suara itu lenyap, berganti dengan dengung suara bernada gembira dari para wisatawan ini. Kinanthi sangat ingin seperti mereka. Riang, lepas tanpa beban.
Tapi sepertinya Kinanthi terlalu berharap banyak. Seiring derap menjauh barisan itu, seiring itu pula suara-suara di kepalanya semakin keras berdengung. Ia benci suara itu. Karena ketika suara-suara itu muncul, berdengung di kepalanya, dengan kecepatan tinggi ia akan menarik suara-suara lain yang tak diinginkannya…..
“Kenapa kau belum menikah? Jangan membuatku semakin merasa bersalah”.
“Kenapa harus merasa bersalah? Ini hidupku. Dan aku berhak membuat keputusan apapun atas hidupku”.
“Engkau tahu, aku berusaha menepati janjiku padamu untuk membahagiakannya. Tapi sepertinya aku takkan berhasil. Semakin keras usahaku membahagiakannya, semakin perih hatiku karena mengingatmu. Semestinya aku tak mengambil pilihan meninggalkanmu. Bisakah kita memperbaiki semuanya? Aku akan bicara baik-baik dengannya. Aku juga tak bisa terus-terusan menyakitinya”.
“Bukankah sejak awal sudah kukatakan, setiap pilihan melahirkan konsekuensi. Dan dulu engkau bilang siap menanggung konsekuensinya. Dan inilah konsekuensinya. Kenapa sekarang engkau ingin melarikan diri dari konsekuensi itu?
“Aku serius, aku akan segera memprosesnya”
“Untuk apa? Toh, hatiku juga sudah kutambatkan pada orang lain”.
“Pada orang yang nggak jelas itu… Kamu sendiri nggak yakin dengannya. Bukankah kau bilang kau perlu matahari? Aku siap menjadi mataharimu. Dia….., apa dia siap menjadi mataharimu? Seperti kau bilang, dia adalah jailangkung. Yang datang tak diundang, dan pergipun tak diantar. Seperti itukah matahari yang kau harapkan? Harimu akan berselimut mendung. Ijinkan aku menjadi mataharimu. Ayuhlah, katakan ya. Dan segera kuproses semuanya”.
“Stop, jangan menjanjikan apapun lagi untukku”.
…………………………………………………………………………………….
Kinanthi memutuskan untuk berbalik arah, pulang. “Cara ini takkan membantuku”, pikir Kinanthi. Disimpanginya langkah-langkah bergegas itu. Halte bus menjadi tujuannya sekarang. Sudah banyak orang di halte tak bernama itu. Sebagian wajah sudah sangat familiar dengannya. Ibu penjual tahu, Bapak tukang parkir, beberapa penjaga toko sepanjang malioboro, dan tentu saja para pengamen.
Bus datang. Kinanthi mengambil tempat bersisihan dengan Bapak tukang parkir. Sebenarnya Kinanthi ingin “diam” sejenak. Tapi Bapak tukang parkir rupanya tak peduli.
“Nduk, kok diam saja. Biasanya sumringah kalau pulang. Lha ini wajahnya kok ditekuk-tekuk kayak gitu…”
“Ndak papa kok Pak. Hanya sedikit capek saja”, Kinanthi membalas tak bersemangat.
“Whe lah, cilaka iki. Lha kalau kamu mumet, aku takon karo sopo iki…”.
“Lha wonten napa to Pak. Nggak papa, tanya saja. Kalau saya tau ya saya jawab”.
“Iki lho Nduk, aku tu bingung. Calon presidene kok podho kakehan janji kuwi, terus sik tak pilih sik sopo?”
Sejenak Kinanthi termenung. Pikirannya melayang ke peristiwa siang tadi. Ah, kenapa orang suka sekali menebar janji. Padahal dia sendiri tak tahu mampu tidak memenuhi janji itu. Manusia, ketika sudah berbenturan dengan kepentingan, apapun jadilah…
“Lho, Nduk…kok malah ngalamun. Piye, siapa yang harus tak contreng besok tanggal 8. Lha janjine apik kabeh je. Coba lihat ini. Sejumlah Janji dan Kontrak Politik Capres-Cawapres. Semua rak elok tho…”, Bapak tukang parkir mengangsurkan koran yang dipegangnya. Dan di sana memang tertulis dengan jelas janji-janji manis dari Capres-Cawapres.
“Wah, kalau yang ini saya juga ndak tau Pak. Tapi menurut saya, yang bisa jawab ya Bapak sendiri. Hati Bapak paling sreg dengan yang mana. Insya Allah hati kita itu lebih jujur menilai sesuatu. Nggih tho Pak…”
“Iyo yo Nduk. Wis, aku tak madep mantep melu atiku wae. Matur nuwun Nduk, kadang sik enom ki luwih iso maca tinimbang wong tuwo”.
Nggih Pak, sami-sami. Namung ngepasi kok Pak. Di banyak waktu, yang muda yang memang harus ngangsu kawruh sama yang banyak pengalaman seperti Bapak”.
“Iyo. Iki wis meh tekan klithikan. Kamu turun sini tho….”.
“Inggih Pak. Saya turun dulu nggih...”
Kinanthi baru saja melangkahkan kaki masuk ke rumah ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi. Sebuah pesan nampak di layar. “Tante, tanggal 8 Juli nyontreng yang mana? Bundanya Husein bingung nih. Soalnya semua Capres berjanji manis. Nte, kapan main ke Tulungagung? Nenek juga kangen lho sama Tante…”
Ah, lagi-lagi soal janji. Membuat bingung orang saja. Begitu mudah orang mengobral janji. Kayak obral baju aja. Mending in….sat dengan obral obrolnya. Bisa ngirit dikitlah. Andainya mereka yang berjanji itu sadar dengan konsekuensi dari apa yang mereka janjikan, mungkin mereka akan berpikir ulang. Dan aku hanya bisa berkata :
Izinkanlah.... aku mengakhiri semua
Izinkanlah.... aku mengakhiri dusta
dan kepalsuan yang kau samarkan ……. (Nike Ardilla)
STOP OBRAL JANJI
* Thanx to seorang sahabat untuk cerita inspiratifnya. Sungguh, tepat pada waktunya…
* Tulisan ini didedikasikan untuk :

Selengkapnya...
Thursday, June 18, 2009
Rumah Sakit Penuh Cinta
Apa kabar teman-teman? Berapa tahun cahaya ya kita tak bersua.. Satu tahun? Hahaha… jelas belum ada lah. Berapa pun lamanya, yang jelas aku kangen tak terkira. Aku kan begitu menyayangi kalian. Hahaha….gombal abiiiizzzzzzzzzzz. Ndak pa pa lah, kubiarkan tanganku menarikan apa saja di atas keyboard. Itung-itung sebagai hadiah setelah sekian lama terpasung.
Terpasung? Iyalah, beberapa waktu tak boleh beraktifitas, kerjaannya hanya makan dan tidur, ndak boleh mikir yang berat-berat, ndak bisa ngangkat ini itu, kalau mau apa-apa tinggal bilang dan sekejap sudah ada di depan mata. Menyenangkan? Jelas tidak, meskipun serasa sedikit seperti putri raja. Sedikit karena banyak aktifitas putri raja yang lain yang tak bisa dilakukan. Ndak bisa ngajak dayang-dayang berburu di hutan (siapa tau ketemu tarzan ganteng…), ndak bisa mandi di kali (siapa tau kelelep trus ditolong arjuna baik hati…), ndak bisa banyak yang lain deh…
Ceritanya begini teman-teman. Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 8 Mei jam 8 malem, saya mendapat senggolan mesra dari sebuah motor tepat di depan pasar Klithikan Jogja. Kalau biasanya saya geleng-geleng kepala karena seringnya melihat kecelakaan terjadi di tempat itu, akhirnya saya sendiri harus mengalaminya sendiri. Alhasil beberapa hari harus ikhlas menerima perhatian ekstra dari banyak dokter dan perawat. Untungnya dokter dan perawat-perawatnya rata-rata masih muda. Jadi seger kan. Hehehe…. Dan inilah yang ingin kuceritakan. Tentang uniknya RS tempatku dirawat. Sebenarnya awal sempat dirawat di sebuah RS di Jogja. Tapi karna keluarga di Kulon Progo, akhirnya minta dirujuk ke RS ini biar tak repot bolak-balik Jogja-KP. Kebetulan pula dokter yang merawatku di Jogja kenal baik dari dokter kepala RS ini.
Rizki Amalia Medika. RS ini masih belia. Seperti halnya para perawat dan dokternya. Didirikan oleh seorang dokter muda yang punya idealisme tinggi. Dulu beliau mengawalinya dengan membuka praktik di rumah kontrakan mungil di barat RS tersebut. Waktu berjalan, semakin lama pasien beliau semakin banyak. Entahlah, banyak orang merasakan dokter muda ini bertangan dingin. Banyak yang cocok dengan dokter muda ini. Wejangan menyejukkan yang mengiringi tindakan medisnya memberikan sugesti luar biasa untuk sembuh rupanya. Tarif miring dan suasana kekeluargaan yang kental menjadi pelengkap daya tarik beliau.
Berbekal keuletan dan kemauan keras, akhirnya mimpi beliau untuk memberikan layanan yang lebih baik pada para pasiennya pun terwujud. Sebuah RS kecil, dengan segudang idealisme pun berdiri. Setahap demi setahap RS ini terus berbenah. Aku tahu karena beberapa tahun terakhir ini sudah 5 orang dari keluargaku yang menjadi pasien di RS ini. Jadi aku bisa melihat perkembangan RS ini.
Banyak perubahan yang sudah terjadi. Perbaikan kualitas di sana-sini tampak nyata. Penambahan layanan seiring semakin banyaknya para dokter muda idealis yang bergabung semakin menambah gayeng saja. Tapi ada yang dipertahankan tak berubah, yaitu nuansa kekeluargaan yang selalu dikedepankan. Salah satunya adalah tradisi pembebasan jam besuk dan jumlah orang yang menunggui pasien. Dan ini tentu saja yang paling disuka keluargaku. Karena di desaku masih kental nuansa kekeluargaan dan gotong royongnya. Semua sukanya dilakukan rame-rame. Termasuk ketika menjenguk. Seringkali niatnya bukanlah menjenguk, tapi menemani menunggui di RS. Jadi biasanya agak lama mereka di RS. Bahkan kalau datangnya habis maghrib, biasanya jam 9 malam mereka baru pulang ke rumah. Tidak semua memang. Biasanya anak-anak mudanya.
Hmm, satu hal yang menyenangkan, sekaligus merepotkan. Tapi ini adalah pilihan yang dipilih. Tentu saja setiap pilihan mengandung konsekuensi. Tapi aku sangat percaya, justru kehadiran banyak orang itulah yang mempercepat proses kesembuhan (karena aku pernah merasakannya. Bahwa medis plus doa, dukungan moril kepada pasien adalah kolaborasi hebat yang akan mempercepat kesembuhan pasien).
Ada lagi yang tak berubah. Komitmen pemberdayaan ekonomi untuk orang-orang di sekitar RS terus dijaga. Beberapa pekerjaan yang tidak membutuhkan keahlian khusus memang ditawarkan pada penduduk setempat. Maka Simbah ramah tetap bekerja membantu bersih-bersih sambil melayani jasa penyediaan air panas. Berbekal termos-termosnya, tambahan rezeki pun mengalir ke kantongnya.
Si Mbak rambut panjang pun masih menjadi penyedia konsumsi untuk para karyawan RS. Warung si Mbak di belakang RS itupun semakin ramai dengan pesanan dari para keluarga pasien. Dan RS sengaja membuka pintu belakangnya sampai malam, sehingga bisa menjadi jalan tol untuk transaksi. Parade mas-mas yang bersih-bersih sampai yang jaga parker pun diambil dari penduduk sekitar. Pak dokter muda memang menginginkan RS ini memberikan kemanfaatan untuk banyak fihak, terutama untuk lingkungan terdekat. Dan betul saja, roda ekonomi pun berdenyut di sekeliling RS.
Dan akhirnya ketika harus tinggal beberapa saat di RS ini, wajah-wajah ramah inipun kembali menyapa. Dan tawapun menderai mengiringi canda kami, meski tentu saja aku sambil meringis. “Mbak, kalau kangen padaku saja, kenapa harus pakai menabrakkan diri sih. Cukup datang saja sambil bawa snack teman melek, kami sudah senang”, Mas perawat yang rambutnya tetep saja plonthos sejak dulu masih saja khas dengan banyolannya. Hmm, keluarga kami memang punya kebiasaan berbagi snack dan buah yang biasanya dibawakan oleh para pembesuk ketika malam tiba. Untuk teman melek, begitu selalu kami bilang. Rupanya itu selalu mereka ingat. Hehehe..
Hari ke-3 di RS. Wah, sudah mulai bosen nih. Kenapa muntahnya ndak berhenti juga ya. sudah berkurang sih frekuensinya. Saat masih sibuk menghitung berapa hal yang susah kuingat, tiba-tiba parade paramedic datang. Ada seorang yang tampak aneh dibanding barisan yang mengiringinya. Para pengiring begitu mudah dikenali dengan seragamnya. Tapi siapa sosok modis dan gaul abis yang begitu mereka hormati ini. Baju dan celana bermerk terkenal, aroma harum yang tiba-tiba menyeruak, gaya kocak abis. Beda banget…..Olala, ternyata Pak dokter gaul yang tentu saja masih muda ini adalah dokter ahli.
Beberapa waktu jurus-jurusnyapun dikeluarkan. Dan enteng saja beliau bicara. Gegar otak ringan dan memar di bagian dalam. Hmm, ya sabar ya Mbak. Harus banyak istirahat. Pusingnya perlu waktu agak lama untuk hilang. Jangan berat-berat dulu mikirnya… Hoho, memangnya hidup bisa diatur semudah itu apa. Tapi gaya kocaknya memaksaku tertawa meski pusing berat selepas ditreatment. Dan kuhadiahi beliau satu muntahan. Haha, ya maaf lah Pak.
Hmm, akhirnya waktu tlah tiba. Boleh pulang ke rumah dengan segudang syarat. Haha, tak apalah. Bukankah aturan dibuat untuk dilanggar. Ya toh…(walau akhirnya kena batunya sendiri. Hihi…). Apapun itu, terima kasih banyak untuk semua. Good job pokoknya… jangan khawatir, di rumah sudah menunggu perawat cantik berperut serupa balon….
Catt.
*Hati-hati dengan ucap dan pikir kita. Setelah saya pikir-pikir, apa yang terjadi bisa jadi adalah cara Allah menjawab pinta saya. Beberapa waktu sebelumnya memang sempat terucap lelah. Ingin “istirahat” sejenak. Dan inilah jawabannya. Diberi-Nya saya alasan tepat untuk “beristirahat”. Hmm, hukum ketertarikan bekerja dengan sangat baik…….
*Special thanx untuk dr Agus, Kepala RS Rizki Amalia Medika. Saya sudah keluyuran lagi Pak di jalanan Jogja. Tapi masih tetap dengarkan nasehat Bapak kok. Langsung tidur tiap alarm otomatisnya nyala. Semoga saya cukup bersabar untuk tidak melanggarnya. hehe….
*Postingan ini adalah seri pertama oleh-oleh selama semedi beberapa waktu. Nantikan seri selanjutnya di jam dan hari yang sama. Halah, bak sinetron saja….
*Pst…saya nonton debat capres putaran pertama sampai dua kali. Serius mendengarkan, isi penyampaian mereka dan…ini yang penting. Mencermati gaya bicara Bu Mega. Karena kata teman saya, gaya bicara saya mirip beliau. Lebih di tekanan intonasinya. Tentu saja saya penasaran setengah mati. Nah, saya masih mencari letak kemiripannya. Siapa tau mirip beneran. Siapa tau nasibnya juga mirip. Menjadi salah satu manusia berpengaruh di negeri ini. Hehe…siapa tau kan. Ndak usah cemberut gitu lah. Bagus juga ikut mendoakan. Ya…ya…ya…..
Selengkapnya...
Thursday, April 9, 2009
Antara Dua Pilihan

Kali ini tak ingin ku bercerita yang berat-berat pada kalian, wahai sahabatku. Hanya ingin berbagi bingungku. Harapku, ada diantara kalian yang berbaik hati memberi saran. Siapa tahu ada terbersit ide brilian di sana. Mengubah nasi yang telah menjadi bubur menjadi sajian super lezat. Okey…
Ceritanya begini. Salah satu pot di kantorku sekarang sedang merana. Karena dia menjadi ajang pertarungan dua jenis tanaman. Awalnya yang kutanam adalah Aglonema. Aglonema cantik yang kubawa dari rumah. Mencuri koleksi Ibu’ku. Hehe..bercanda. jelas sudah ijinlah. Kalau pun nggak ijin, niatku baik kok. Menyebarkan keindahan.
Haha.., jadi ingat sweet memories dengan teman-teman se-geng. Kami dulu suka mengambil tanaman di tempat-tempat tak bertuan yang kami kunjungi dengan menggunakan mantra ini, “Ijinkan kami mengambil bagianmu. Niat kami baik. Biarkan kami sebarkan indahmu ke penjuru dunia.” Ah, konyol ya. Jelas mereka tak bisa melarang. Lha wong mereka nggak punya mulut dan tangan. Tapi anehnya justru tanaman-tanaman yang kami dapatkan dengan cara seperti itulah yang tumbuh subur di kost kami. Padahal kami tak pernah membeda-bedakan perlakuan. Entahlah, mungkin berarti mereka mengijinkan kali ya. Lah, kok malah ngelantur. Kembali ke laptop, eh, ke permasalahan.
Seperti kuceritakan tadi. Pot berwarna kuning semburat merah bata itu sungguh-sungguh merana. Awalnya baik-baik saja. Aglonema yang kubawa dari rumah mulai bertunas. Semakin lama semakin suburlah dia. Nah, tepat ketika daunnya sudah mulai melebihi tinggi pot di situlah permasalahan dimulai. Kucing-kucing kecil punya Ibuk yang menjaga kantor mulai menyukainya. Aglonema cantik mulai sering ditarik-tarik. Daunnya yang melambai-lambai semakin menggoda kucing-kucing kecil itu. Maka bisa ditebaklah hasilnya. Aglonema cantik meradang. Dia ngambek tak mau meneruskan tumbuhnya. Sebab, setiap kali dia mengeluarkan daun cantiknya, sekejap kemudian daun cantiknya dicabik-cabik kucing-kucing kecil itu.
Nah, aku yang tak mau tau apa yang terjadi langsung main hakim sendiri. Kuberikan ultimatum pada Aglonema cantik. Mau terus tumbuh atau kugantikan dengan yang lain yang lebih menarik? Aglonema cantik diam saja. Dia semakin meradang dan memutuskan untuk mogok tumbuh. Akhirnya kubiarkan saja dia. Jika dia seperti itu terus, pelan namun pasti dia membunuh dirinya sendiri. Kenapa harus kupusingkan. Tapi untuk sementara kubiarkan saja dia di sana. Toh, aku juga belum punya tanaman baru untuk menggantikannya.
Satu waktu aku menemukan tunas Ginger. Kasihan sekali, dia tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Sungguh tak sampai hati kutinggalkan dia. Akhirnya kupungut dan kubawa ke kantor. Karena aku tak punya pot cadangan, kutitipkan Ginger kecil pada pot tempat Aglonema cantik tinggal. Kubilang padanya, “tolong beri dia tempat untuk tumbuh.” Pot berwarna kuning semburat merah bata itu sempat protes. “Bagaimana kalau Aglonema cantik marah?”. “Biarkan saja, toh dia tak mau kompromi denganku,” jawabku sambil berlalu.
Hari terus berganti, tak terasa 3 purnama berlalu. Dan Ginger kecil telah menjelma menjadi Ginger yang anggun dan kuat. Bahkan dia telah mendominasi seluruh pot itu. Aku senang melihat perkembangannya. Aglonema cantik tertutup sudah di balik rimbun Ginger. Dia hanya mampu sesekali menunjukkan diri ketika angin menggoyang Ginger. Tapi dia tak menyerah. Sekuat tenaga dia bertumbuh. Dan akhirnya pelan namun pasti dia mampu unjuk gigi. Meski tetap saja dia harus pintar-pintar mencuri waktu. Ginger sudah terlalu besar kini.
Pot berwarna kuning semburat merah bata itulah yang akhirnya kewalahan. Setiap saat dia harus melihat dua makhluk cantik itu berperang. Berebut tempat, berebut kuasa. Aku jadi ikut-ikutan memperhatikan mereka. Tapi setiap kali kuperhatikan, aku seperti melihat mereka semakin ganas. Mereka berusaha menarik perhatianku dengan berbagai cara. Aglonema sebagai penghuni lama, dan Ginger sebagai penghuni baru.
“Putri, bukankah dulu engkau yang membawaku datang kemari dengan penuh kasih sayang? Kau tanam aku, kau rawat aku sepenuh hatimu. Tolong, jangan perlakukan aku seperti ini. Enyahkan dia dari tempatku. Lagian, kalau dibandingkan jelas aku lebih cantik, lebih menarik. Dia, apa yang bisa dibanggakan darinya,” Aglonema mencoba menarik hatiku.
“Putri, aku juga tidak pernah memintamu untuk membawaku ke sini. Engkau juga yang memutuskan menolongku, merawatku, menjauhkanku dari tangan-tangan tak bertanggung jawab. Engkau membiarkanku tumbuh dan berkembang di sini. Hingga aku menjelma menjadi sosok yang kuat. Adilkah jika tiba-tiba engkau mencerabutku dari sini? Bukankah dulu engkau memutuskan menaruhku di sini karena dia telah kau anggap tak berguna lagi?” Ginger berseru tak mau kalah.
“Putri, engkau harus segera membuat keputusan. Yang mana yang akan kau pilih. Engkau tak bisa terus mempertahankan dua-duanya seperti ini. Kasihan mereka jika terus begini. Ayolah, buat keputusan. Sebelum engkau semakin sulit untuk memutuskan. Sebelum engkau melihat kerusakan. Jika cantik yang kau lihat sekarang, bisa kupastikan dua tiga bulan lagi kerusakanlah yang akan kau saksikan. Kasihani juga aku. Tak mampu aku terus menerus mendamaikan mereka.
Ah, aku pusing mendengar seruan-seruan mereka. Yang manakah yang harus kupilih. Aglonema, dialah yang pertama tinggal di situ. Ginger, meski dia baru tapi dia telah menguasai tempat itu. Akar-akarnya telah menghunjam kuat di pot berwarna kuning semburat merah bata itu. Umbinya-pun sudah mulai terlihat. Sebentar lagi bisa untuk membuat wedang jahe. Tapi Aglonema, kasihan kalau dia kupindahkan. Pasti dia sakit hati. Perjuangannya untuk mempertahankan diri juga luar biasa. Aduh, semakin bingung jadinya.
Teman, bisa membantuku? Yang manakah yang harus kupertahankan. Aglonema atau Ginger. Aku tahu, bagaimanapun aku harus mengambil keputusan. Betul kata pot berwarna kuning semburat merah bata itu. Mempertahankan dua-duanya hanya akan merusak mereka. Jadi ingat nasehat salah satu guru. Beliau pernah berkata, lebih baik meletakkan dua telur di keranjang berbeda. Jangan dalam satu keranjang. Kalau dalam satu keranjang, begitu bergesekan, pecah dua-duanya.
Dan aku tak ingin mereka pecah, mereka rusak. Aku ingin dua-duanya terus hidup,, tumbuh dan berkembang. Memberikan bakti terbaik mereka pada dunia. Bukan hanya padaku saja. Meski untuk itu aku harus rela melepas salah satunya, dan memindahkannya ke pot lain. Tapi yang mana yang harus kupindah…………..?
Catt.
Begitu terasa dekat kan kisahnya? Aglonema vs Ginger hanyalah satu kisah dari sekian kisah senada. Bahwa dalam hidup, kita harus mampu membuat pilihan-pilihan. Pilihan terbaik bukan saja hanya untuk kita, tapi juga untuk orang-orang di sekitar kita, untuk kehidupan semesta. Karena satu pilihan kita, sudah pasti akan mempengaruhi jalinan cerita dari seluruh cerita kehidupan semesta.
Ah, dunia yang selalu dipenuhi hal-hal tak terduga ini memang mensyaratkan hadirnya orang-orang yang senantiasa siap mengambil keputusan. Laksana Arjuna dan Srikandi dalam perang Bharatayuda. Andai Arjuna lebih memilih rasa dan tak mau menjadi panglima menghadapi Karna, mungkin Bharatayuda menjadi lain ceritanya. Andai Srikandi memilih untuk tetap menjadi wanita di balik layar, mungkin Pandawa tak meraih kemenangan. Sesulit apapun, tetap saja keputusan harus ada.
* untuk yang sedang harus membuat pilihan, sesulit apapun keputusan harus ada. Semoga diberi bening hati, jernih fikir, hingga terambil keputusan terbaik. Untukmu, untuknya, untuk kita.
* gambar diambil dari sini
Selengkapnya...
