Friday, January 2, 2009

Menyetiai mimpi 2: Kreatif meski Kondisi Sulit

Pagi ini sebuah sms masuk ke hp saya. “Mbak, tolong carikan kerjaan untuk saya ya. Saya baru saja di-PHK. Mbak tahu kan kondisi keluarga saya. Tolong ya. Matur nuwun…”. Beberapa saat saya hanya mampu termangu. Sejurus kemudian otak saya pun berputar. Jawaban apa yang mesti saya sampaikan. Akhirnya kalimat sakti-lah yang tertulis di layar hp, “saya usahakan semampu saya nggih……..”.

Cukup lama waktu yang saya butuhkan untuk mengambil keputusan mengirim pesan tersebut. Konsekuensinya panjang saudara-saudara. Saya tahu persis kapasitas, sifat dan sikap yang bersangkutan. Perlu waktu yang tidak sebentar untuk menjadikannya sosok yang cukup kompetitif-menurut saya. Apalagi dengan banyaknya kasus PHK akhir-akhir ini. Persaingan menjadi semakin ketat. Jika tak ada skill yang bisa ditawarkan, jangan harap.

Bicara tentang skill, saya teringat perbincangan dengan satu teman. Saya cukup tertarik dengan cara beliau “mendidik” anak buahnya untuk memenuhi tuntutan skill yang harus dikuasai. Tidak secara langsung, tapi beliau memilih untuk memberi pancingan-pancingan yang “memaksa” anak buahnya untuk belajar. Terbukti, cara beliau cukup efektif untuk mengubah “aura” dan pola kerja mereka. “Perlu waktu lama memang untuk mengenali karakter masing-masing, sehingga tahu sentuhan seperti apa yang paling tepat. Plus jeli memilih waktu yang tepat untuk menyentuh”, tutur beliau.

Yang paling menarik dari cara beliau adalah, beliau mendidik anak buahnya untuk tidak terjebak dengan keterbatasan. Kreatif walau dalam kondisi yang sulit sekalipun. Walau dengan fasilitas yang minim sekalipun. Justru kesulitan dijadikan pemacu dan pemicu untuk kreatif. Jeli memanfaatkan apa yang ada untuk “dikreatifi”.

Saya jadi ingat satu teman saya yang lain. Dulu kami tergabung dalam satu “geng” yang beranggotakan 5 orang. Kami punya impian yang sama. Pergi ke Jepang. Dan kami punya kesulitan yang sama. Tak ada biaya, tak bisa bahasa Jepang, tak punya akses ke Jepang.

Dari anggota geng yang lain, dia memang yang paling serius. Dia mati-matian belajar bahasa Jepang, mempelajari budaya Jepang dan rajin nyambangin turis Jepang ketika yang lain berkeyakinan tak perlu bisa bahasa Jepang untuk sampai ke Jepang. Sampai-sampai kami merasa begitu dekat dengan Jepang kalau ada di dekatnya. Lha hampir semua atribut yang dia pakai berbau Jepang. Bahkan dia menjelma menjadi “pengusaha” pernak-pernik bergaya Jepang (Betul-betul, dari kere-aktif menjadi kreatif. Dan tentu saja anggota geng yang lain yang menjadi sasaran tembak sebagai pembeli pertama).

Tapi, perjuangannya memang tidak sia-sia. Terbukti, dia sudah dua kali ke Jepang. Sedangkan kami masih saja membayangkan apa rasanya duduk beralaskan tebaran bunga sakura. Terakhir, dia menghadiahi saya sebuah sarung hp (yang mirip dengan yang dibuatnya dulu). Tapi kalau yang ini asli dari Jepang.

Hmm, tetap saja yang mau kreatif-lah yang menuai hasil. Kreatif belajar, kreatif melihat peluang, kreatif memanfaatkan peluang, kreatif memperjuangkan peluang menjelma nyata. Saya jadi tergoda untuk memberikan tawaran yang berbeda pada sang pengirim sms. Mumpung teman saya yang lainnya sedang kebingungan mencari orang untuk mengelola usahanya, karna dia harus hijrah ke daerah lain. Saya ingat sang pengirim sms itu punya satu kelebihan yang diakui banyak teman. Dia pandai menjaga relasi. Nah, teman saya yang mau pindah itu membutuhkan orang dengan keahlian seperti itu. Plus sedikit menguasai jahit-menjahit. Bukan untuk dijadikan penjahit, tapi biar mengerti kemauan pelanggan.

Saya kira kalau dia mau belajar, bisalah. Dia dulu kerjanya juga di pabrik konveksi. Walaupun tugasnya hanya membuat lubang kancing. Jadi, bukan dunia yang betul-betul asing kan? Toh, targetnya hanya untuk mempertahankan pelanggan lama. Syukur-syukur kalau bisa mengembangkan. Bagaimana menurut Anda. Ada pandangan lain?


Ada dua tipe orang yang akan gagal :
Orang yang berfikir tapi tidak melakukan sesuatu dan orang yang melakukan sesuatu tapi tidak berfikir ………….(John Charles S)

* gambar ngopy dari seorang teman

Add.
Terima kasih untuk seorang teman. Cerita yang indah…
Hmm, setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda-beda. Terima kasih untuk tidak memanjakanku, dan membiarkanku menikmati indahnya terbentur-bentur…
Selengkapnya...

Thursday, December 25, 2008

Setitik Kabut Selaksa Cinta

Itu adalah judul novel yang dikarang Asma Nadia. Seorang penulis muda yang cukup produktif menelurkan karya bergenre Islam pop. Seorang teman menghadiahi saya novel tersebut ketika saya terbaring di RS Sardjito beberapa tahun lalu. Saya tidak tahu pasti, niatan di balik pemberian novel itu apa. Yang jelas saya sangat suka dengan judul novel tersebut. Isinya, boleh juga. Cukup mampu menghibur saya yang sedang terbaring di RS waktu itu. Alurnya relative mudah ditebak. Sebenarnya saya lebih suka novel yang alurnya susah ditebak. Novel dengan alur yang susah ditebak memberi kita banyak kesempatan untuk terkejut-kejut dan tentu saja penasaran untuk terus membacanya. Novel jenis inipun juga membangkitkan selera untuk membacanya berulang-ulang tanpa rasa bosan.

Tapi di sini saya tak ingin mengajak Anda untuk membahas tentang berbagai jenis novel. Saya juga tak ingin menceritakan isi novel tersebut pada Anda sekalian. Saya hanya ingin berbagi dengan Anda, sahabat-sahabat kehidupan. Satu fragmen kehidupan yang baru saja saya nikmati. Life, tanpa sensor. Judulnya “Setitik Kabut Selaksa Cinta-nya Mbak Tri-Mas Joko”. Judulnya sengaja meminjam judul novelnya Mbak Asma Nadia (dengan sedikit sentuhan). Alasannya simple seeh. Begitu peristiwanya terjadi, saya langsung teringat judul novel tersebut. Anda penasaran…??? Yuk, kita nikmati bersama…..

Senja memerah di Pasar Milir, tempat aku turun dari bus jurusan Jogja-Wates. Genap dua minggu sudah tak ku jenguk desa dengan segala pernak-perniknya. Sejujurnya berat untuk pulang, seberat untuk tidak pulang. Nah, bingung kan? Alasannya adalah, kalau aku tidak pulang, kasihan Bapak dan Ibu yang merindukanku (ih, sok dirindukan. Narsis deh…). Kalau pulang, ada banyak pertanyaan yang harus kujawab. Dan jawabanku, aku tahu, akan mengecewakan mereka. Jadi begitulah, acara pulang menjadi acara yang rumit buatku (aku juga heran, kenapa aku membuatnya rumit ya. Mungkin karena aku suka novel yang rumit kali ya. Eh, nggak nyambung ya…Kalau dipikir-pikir, jalan hidupku memang relative berbeda dari saudara-saudaraku. Ribet kalau kata adikku. Entahlah…, yang jelas aku enjoy menjalaninya. Dan satu yang kuyakini, jika ingin mendapatkan hidup yang berkualitas, hidup yang di atas rata-rata, memang harus mau membayar harganya. That’s it.). Lho, kok malah jadi curhat. Kembali ke laptop, eh ke cerita.

Sambil menunggu adikku yang berjanji akan menjemput, iseng kuhitung jumlah burung gereja yang bertengger manis di kabel listrik. Jadi teringat burung-burung kecil di seputaran Titik 0 Jogjakarta. Senja mendung seperti ini biasanya mereka sudah bermanuver cantik di atas gedung bank BNI, kantor pos besar, dan tentu saja beringin besar istana mereka. Jangan bayangkan bisa menghitung jumlahnya. Ribuan bahkan mungkin puluhan ribu kali ya. Langit seperti tertutup gulungan hitam yang meliuk-liuk menarikan tarian mistis. Setiap kali melihat mereka, ku bayangkan aku sedang melihat burung-burung ababil yang dikirim Allah untuk menghancurkan pasukan Abrahah yang sedang menyerang ka’bah.

Saat anganku masih mengembara ke Jogja, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundakku. “Nunggu jemputan ya”, sapa pemilik tangan. Ehm, ternyata aku mengenalinya. Mbak Tri namanya, tetanggaku yang menjadi guru di sebuah SMA di Wates. “Iya Mbak, adikku belum datang. Katanya 10 menit lagi baru bisa datang”, jawabku berbasa-basi. Sebenarnya aku lebih memilih meneruskan kembara anganku dari pada berbasa-basi untuk saat ini. Entah, biasanya aku yang cerewet tak bisa diam ketika dalam situasi seperti ini. Tapi begitu melihat rona yang membayang di wajah beliau, sontak kuberubah pikiran. Sepertinya ada yang perlu curhat nih. O la la, dan betul tebakanku saudara-saudara. Tak menunggu berapa lama, mengalirlah cerita beliau. Aku juga heran, kami kan jarang bertemu. Kenapa beliau bisa begitu saja percaya padaku ya. Atau jangan-jangan di jidatku ini sudah menempel emblem bertuliskan “Terima curhatan, kapanpun dan dimanapun. Free…”. Tapi tadi pagi saat aku berkaca aku yakin tidak melihatnya. Dan anehnya, peristiwa seperti ini bukan satu dua kali terjadi. Ya, kuanggap saja ini cara Tuhan mendidikku.

“Aku lagi bingung dengan suamiku, Dik”, Mbak Tri memulai cerita. Demi mendengar prolog ceritanya, aku langsung meringis. Heran, aku kan belum menikah. Kenapa juga orang-orang sudah bersuami itu lebih mempercayakan curhatnya pada orang yang belum punya pengalaman. Tapi nggak mungkin kan aku menyetop ceritanya dan memintanya curhat ke Ibu’ku misalnya. Sudahlah, kudengarkan saja ceritanya.

“Sudah satu bulan ini kami banyak berdiam diri. Ada yang salah kurasa. Mas Joko tak lagi seperti Mas Joko yang dulu kukenal. Mas Joko yang ulet, pantang menyerah dan bertanggung jawab. Padahal kami akan segera punya anak. Kewajiban mencari nafkah kan ada di pundak suami ya. Kalaupun istri bekerja, itu adalah sedekah dari sang istri. Iya kan, Dik”.

Hmm, kasus ini lagi. Kenapa ya beberapa waktu ini aku menemui kasus mirip-mirip seperti ini? Fenomena yang wajarkah? Aku baru saja akan membuka mulut menanggapi, tapi kuurungkan. Aku mau bicara apa? Pakai landasan apa? Lha beliau sudah lebih berpengalaman je. Aku, pertama belum menikah, kedua bukan lulusan psikologi. Ketiga , kalaupun aku punya ilmunya, aku tidak ingin menggurui. Lha wong beliau seorang guru. Jadi, kuputuskan untuk menjadi pendengar yang baik saja. Di salah satu buku yang kubaca mengatakan bahwa sebagian besar wanita yang curhat sebenarnya hanya ingin didengar saja. Memang tidak semuanya seperti itu. Ada sebagian kecil yang ketika curhat memang untuk mencari pemecahan atas permasalahan yang terjadi. Dan kalau kulihat, Mbak Tri dalam kasus ini sepertinya hanya butuh seorang teman yang mau mendengar keluh kesahnya. Terbukti, beliau meneruskan lagi ceritanya tanpa memintaku berpendapat.

“Sebenarnya aku ingin menyampaikan ketidaksukaanku ini pada Mas Joko. Tapi aku khawatir akan semakin menambah parah keadaan. Sejak aku diterima jadi PNS, sikapnya semakin aneh. Aku tahu, walaupun Mas Joko senang aku diterima jadi PNS, di sisi yang lain Mas Joko berat untuk menerimanya. Sepertinya Mas Joko semakin minder. Padahal aku sudah berusaha bersikap sewajarnya”.

“Lha kalau Mbak sendiri inginnya Mas Joko seperti apa, Mbak”, tanyaku memecah kebisuan yang tiba-tiba tercipta. “Aku tu maunya Mas Joko berbuat apa kek. Aku nggak menuntut banyak. Kalau untuk mencukupi kebutuhan, dari gaji sebenarnya sudah cukup. Toh kami belum membutuhkan dana besar untuk anak. Tapi paling tidak, aku juga pengen merasakan seperti wanita-wanita lain. Aku iri melihat kebahagiaan teman-temanku saat mereka menerima uang dari suaminya (aku juga… lho, emangnya aku sudah bersuami? Ngayal deh…). Ini lagi, katanya mau jemput jam lima. Ini sudah jam berapa? Jam enam kurang kan? (duh, kalau hati lagi panas, pemicu sekecil apapun sudah cukup untuk membakar hati ya)”.

Aku mencoba memberikan senyum yang paling meneduhkan. Berbicara sepertinya bukan pilihan tepat. Saat-saat jeda yang terasa panjang itulah tiba-tiba seorang laki-laki serasa pendekar datang menghampiri. Berselempang penyesalan, berpedang keikhlasan. Dengan sikap tawadhu tapi bukan tunduk, beliau meminta maaf. “Maaf Dik, tadi baru saja menyiapkan kandang. Hari ini aku resmi joinan dengan temanku. Kami bersepakat menghidupkan lagi peternakan ayam petelur yang dulu kami bangun”.

Kulihat Mbak Tri terperangah. Perlahan tapi pasti, kabut itu mulai memudar dari wajahnya. Berganti dengan binar yang sulit kulukiskan dengan kata-kata. Mbak Tri mendekatiku dan berbisik, “Dik, aku sudah mendapatkan jagoanku kembali. Ternyata aku yang kurang sabar mengikuti prosesnya. Terima kasih ya sudah mau mendengarku. Aku pulang dulu ya”. Senyum dan anggukanlah yang kuberikan sebagai jawaban. Karna aku tahu, Mbak Tri tak membutuhkan apapun lagi kini.

Ah, ternyata. Kabut itu hanya setitik. Tetap saja cinta mampu menemukan jalannya.

Add. Salam penghormatan untuk siapapun Anda yang telah memutuskan untuk berjuang, memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang Anda cintai.

Selengkapnya...

Monday, December 22, 2008

Wanita-wanita Perkasa : Bu Prapto, Penjual Gorengan Keliling

Duduk di hadapanku, seorang ibu
Dengan wajah sendu, sendu kelabu
Penuh rasa haru dia menatapku
Penuh rasa haru dia menatapku
Seakan ingin memeluk diriku

Dia lalu bercerita tentang
Anak gadisnya yang tlah lama tiada
Karna sakit dan tak terobati
Yang wajahnya mirip denganku
Yang wajahnya mirip denganku…..

Lagu itu, yang entah dinyanyikan oleh siapa, terasa begitu pas dengan yang kualami. Ini bukan sekedar lagu. Tapi ini adalah kisah nyata yang kualami, karna tepat di hadapanku memang tengah duduk bersimpuh seorang ibu. Namanya Bu Prapto. Sudah sejak lama beliau mengamatiku, begitu beliau mengakui. Tapi beliau tak pernah punya keberanian untuk menemuiku. Dengan menahan sesak di dada, beliau memilih mengamatiku dari balik pagar. Padahal sebenarnya mudah bagi beliau untuk mendekatiku, karena pintu kantor selalu terbuka.

Akhirnya, satu waktu beliau tidak mampu menahan diri. Sambil menahan debaran di dada, beliau memberanikan diri untuk mendekatiku. “Jajanan Jeng, krupuk, gorengan….”, begitulah cara beliau mendekatiku. Bu Prapto adalah penjual gorengan keliling yang beroperasi di seputaran alun-alun utara. Sebenarnya aku awalnya tak begitu berminat. Tapi seperti biasa, aku selalu saja susah untuk mengatakan tidak. Kubayangkan beliau sejak pagi sudah susah payah memilih dagangan, tiba-tiba dengan mudahnya kukatakan tidak. Uh, tentu ini akan membuyarkan impian-impian kecil yang dibangunnya hari ini. Mungkin membelikan cucunya es krim, atau sekedar membelikan anak lelakinya makanan kesukaannya.

Membayangkan itu aku jadi tidak tega (Adikku selalu memprotes sikapku ini. “cepet abis duitnya kalau setiap ada yang meminta dikasih, setiap ada yang jualan dibeli”, begitu protesnya. He…., aku meyakini bahwa setiap orang sudah diatur rejekinya. Dan menurut hukum keseimbangan, semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita dapatkan. Bahkan menurut hukum sedekahnya Yusuf Mansyur, semakin banyak kita memberi, akan semakin bertambah banyak lagi yang akan kita terima. Jadi, kenapa harus pusing…He, kata temanku ini hanya apologiku saja karena belum berhasil menghilangkan kebiasaan “tidak bisa mengatakan tidak”).

Akhirnya kubeli seplastik penuh krupuk yang kata beliau rasanya maknyuss… plus beberapa gorengan. Ternyata memang benar, krupuk itu akhirnya menjadi krupuk favorit kami. Sebenarnya di luaran sana juga ada, tapi rasanya berbeda. Entah apa penyebabnya. Mungkin karena Bu Prapto menjualnya dengan cinta. Bukankah apapun yang dilakukan jika dilandasi dengan cinta akan berbuah kemukjizatan? Itu kata teman saya.

Berawal dari krupuk itulah akhirnya beliau sering datang. Biasanya dua hari sekali. Dan akhirnya meluncur jua cerita dari beliau, tentang putrinya yang telah meninggal dunia. Lulusan salah satu pesantren terkenal di Jogja. Bu Prapto menggantungkan banyak harapan dari putrinya tersebut. Karena dari sekian anaknya, putrinyalah yang paling pandai dan paling tahu bagaimana memperlakukan orang tua. Sayangnya, putri beliau tak berumur panjang. Dia sakit tanpa terketahui jenis penyakitnya. Dokter di RS tempat dia sempat dirawat angkat tangan dan menyarankan untuk dibawa pulang saja. Ada yang bilang dia diguna-guna oleh orang yang sakit hati karena ditolak cintanya. Entahlah, sampai sekarang Bu Prapto tidak tahu. Yang jelas beliau begitu terpukul ketika putrinya meninggal.

“Dia sangat baik Jeng. Kata orang cantik juga. Walaupun tetap lebih cantik njenengan (ku tersandung….gubrak….). padahal ketika itu hampir menikah. Begitu lulus disunting santri sana juga. Sampai sekarang calon suaminya masih baik pada Ibu. Sayang dia sudah menikah. Kalau belum mau saya kenalkan dengan njenengan. Dia belum lama nikahnya. Baru 3 bulan yang lalu. Katanya sulit melupakan anak saya..( he..kalau belum jodoh, tetep aja kelewat..ups, kok jadi ngarep…). Tapi saya akan mendoakan njenengan, biar dapat yang lebih bagus (amieeen…Bu…)”.

“Saya sudah menganggap njenengan sebagai pengganti anak saya. Setiap kali melihat sosok njenengan, saya seperti melihat sosok anak saya. Saya pasti berdoa yang terbaik”, begitu tutur Bu Prapto sambil menyeka air matanya. Saya, yang memang mudah menangis, tentu saja mengikuti tanpa dikomando. Ini bukan cengeng lho ya, tapi gembeng. Cengeng itu rapuh. Kalau gembeng itu dia menangis karena memang harus menangis. Dia tau kapan harus menangis dan kenapa harus menangis. Itu kata Kang Arief, salah satu kakang saya (Jadi ingat dulu. Satu ketika kang Arief datang ke kos saya dalam keadaan basah kuyup. Saat itu hujan deras. Petir menyambar-nyambar di seputaran UGM. Setelah saya buatkan secangkir Nescafe, beliau kemudian cerita. “Sebenarnya aku cuma mau nganter ini. Beliau mengulurkan sebuah stiker bertuliskan “Gembeng” di sana. Tadi ada penjual stiker ikut berteduh di emperan JS. Dia manawari aku stiker. Sebenarnya aku tidak tertarik. Tapi tadi aku melihat stiker ini dan langsung inget kamu. Makanya aku beli. Biar bisa mengingatkan terus. Aku kan tidak tau sampai kapan bisa menemanimu. Ingat, jangan cengeng. Aku tidak punya adik cengeng”. Tau, seketika mataku terasa panas sekali. Tetes air mataku mengiringi tetes hujan yang justru semakin deras. Kang Arief memang salah satu kakang terbaik yang pernah kumiliki. Stiker “gembeng”nya masih setia menempel di kaca hiasku Kang….)

Bu Prapto. Dua tahun waktu yang dibutuhkan beliau untuk bangkit dari keterpurukan. Akhirnya beliau memutuskan untuk berjualan keliling di Alun-alun Utara Jogjakarta. Beliau bilang ini dilakukannya untuk menjauh dari makam putrinya. Sebab, jika tetap di kampungnya di Gunungkidul, beliau selalu tak bisa menahan diri untuk tidak mendekati makam putrinya.

Namanya Bu Prapto. Umurnya sudah mendekati 70 tahun. Tapi beliau masih saja setia menyusuri seputaran Alun-alun Utara untuk mempertahankan hidup. Suaminya sudah meninggal. Putrinya sudah meninggal. Anak laki-lakinya (si sulung) belum bisa diandalkan. “Dia masih harus belajar hidup, Jeng”, begitu tutur beliau. Maka tak ada pilihan. Tenggok besar berisi jajanan itulah yang jadi penopang hidupnya. Dan atas nama kemanusiaan, setia jualah aku menunggunya. Membawakan krupuk dan apel hijau pesenanku. Memang, aku akhirnya mengakali beliau. Kupesan apel hijau sebagai pengganti gorengan. karena aku juga tak mau mengorban tubuhku atas nama kemanusiaan. Toh kalau aku sakit, tak kan ada lagi yang menunggu Bu Prapto di pojok Alun-alun Utara ini kan? Dan bos kecil tak kan bisa bilang, “tu mbokmu dah datang…”.

Bu Prapto, salam penghormatan kusampaikan untukmu Ibu. Semoga di Hari Ibu ini, ada banyak keajaiban yang datang. Sehingga masa tua yang semestinya bisa lebih ramah terasakan bisa Ibu nikmati.

Jangan tanya kapan, tapi keajaiban akan datang menghampiri orang yang selalu melakukan yang terbaik, buat dirinya sendiri maupun orang lain…(Helen Keller)

Selengkapnya...

Ibunda

Mengingatmu, adalah melayari kesabaran tak bertepi
Mengenangmu, adalah menelusuri jejak kepahlawanan Kartini
Merindumu, adalah menyesapi keajaiban-keajaiban kecil penuh arti

Tenang, tapi tatapmu meruntuhkan keangkuhan
Diam, tapi sentuhmu meredakan gejolak yang menggetarkan dinding hati
Melabuhkannya pada damai tak bertepi

Ibunda,
tak kan pernah cukup kata untuk menyanjungmu
karna memang tak kau perlu kata sanjungku
untuk mempertegas keagungan yang memancar darimu
tapi ijinkanlah untuk kuakui (dalam angkuhku)
bahwa aku cinta…………….


Catt. Satu persembahan untuk Ibunda.... Selengkapnya...

Thursday, December 18, 2008

Belajar dari Alam : Garam

Padepokan Ngisor Ringin di suatu pagi. Sang Guru duduk dikelilingi para muridnya. Kali ini Sang Guru memulai pelajaran hidup hari ini dengan cerita tentang “Garam vs Manusia”. Dan mengalirlah tutur singkat ini, runtut seperti alir air di sungai kecil yang membelah padepokan.

Garam, ketika tidak ada hadirnya di masakan, ia mampu menghilangkan rasa dari bahan-bahan lain yang harganya mahal. Semua terasa hampa. Daging yang mahal, sayuran yang mahal, tak terlihat adanya.

Begitu besar arti keberadaan garam. Walau begitu, manusia begitu rendah menghargai garam. Berapakah harga 1 kg garam? Coba bandingkan dengan harga 1 kg daging. Jauh sekali bedanya. Tapi garam tidak pernah protes. Garam tidak pernah mendemo manusia. Garam tidak pernah boikot dengan mengurangi kadar keasinannya. Garam tetap memberikan yang terbaik dari dirinya.

Tau kenapa? Karena garam tidak mengejar harga diri. Garam lebih mengejar nilai diri. Beda dengan manusia. Kebanyakan manusia orientasi hidupnya untuk mengangkat harga diri, bukan nilai diri. Ini adalah salah satu penyebab susahnya mencari kedamaian di dunia ini.

Sang Guru mengakhiri cerita. Para murid tercenung, sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba salah satu murid mengacungkan tangan. Murid yang lain bingung dengan tingkah temannya. Sang Guru dengan senyum teduhnya mempersilahkan murid tersebut untuk bicara. “Guru, mohon maaf. Saya mau pamit ke dapur sebentar. Saya lupa, tadi sayurnya belum saya beri garam”, ujar sang murid polos. Tawa pun meledak di Padepokan Ngisor Ringin.

Jangan pernah lelah untuk mencintai. Terus…...berikan yang terbaik, apapun yang kita terima. Seperti garam yang terus memberikan yang terbaik dari dirinya…..

Catt. Persembahan untuk satu Guru.
Selengkapnya...

Tuesday, December 16, 2008

Istirahatlah sejenak

Istirahatlah sejenak,
Karena lelah telah melingkupimu, mengundang rasa tak nyaman menelisik ke tubuhmu

Istirahatlah sejenak,
Walau kau tak mau mengatakan, bukankah tlah kau paksa aku belajar mengerti pertanda alam?

Istirahatlah sejenak,
Agar terurai laktat yang menyelimuti fikir dan rasamu, memberati mata dan langkahmu.
Aku tak kan sanggup melihat mata tajam itu meredup kelelahan. Aku tak sanggup melihat langkah itu berayun dalam bimbang.

Maka istirahatlah sejenak,
Sandarkanlah resah di pundak mungilku.
Engkau tau, terkadang aku bisa menjelma sekuat sembadra
Meski di banyak waktu, akulah yang lebih sering meminjam punggungmu untuk menuntaskan tangisku

Dan istirahatlah sejenak,
Bukan, bukan untuk berhenti sayang,
Tapi justru untuk kembali berlari.

Bukankah kau harus memenangkan setiap langkah dan setiap perjuangan?


(karena apapun rasamu, begitulah rasaku…………) Selengkapnya...

3 Alasan Kenapa harus punya guru

Setiap manusia hidup pasti tidak terlepas dari yang namanya masalah. Kata teman saya, jika tidak ada masalah, hidup menjadi tidak hidup. Benar juga seeh. Hidup menjadi lebih berwarna dan punya makna ketika masalah datang dan kita mampu melewatinya dengan manis. Tapi ketika masalah datang bertubi-tubi dan kita menjadi senewen karenanya, masihkah masalah akan membuat hidup menjadi lebih berwarna? Tetap iya, tapi didominasi warna gelap kali ya. Pasalnya, kemana-mana kita membawa tampang jutek gak karu-karuan itu. Dan the law of attraction pun bekerja. Sadar atau tidak sadar kita telah menarik semakin banyak aura negative dalam hidup kita (salah satu guru saya menerangkan cara kerja hukum ini dengan apik di sini).

Beberapa teman pernah bertanya pada saya. Ada nggak seeh trik untuk meminimalisir datangnya masalah yang bertubi-tubi pada kita. Menurut saya seeh ada (ini hasil meguru pada satu guru). Kata guru saya tadi, apa yang terjadi pada hidup sebenarnya adalah perulangan-perulangan dari berbagai permasalahan yang sudah ada sebelumnya. Tentu saja dengan varian wajah baru, dan sangat mungkin tingkat kompleksitasnya juga lebih tinggi. Makanya beliau menyarankan untuk punya guru di masing-masing lini hidup yang kita masuki. Di ranah apapun itu. Misalnya kita mau masuk di dunia bisnis (dunia maya maupun dunia nyata) sangat disarankan kita punya guru yang akan memandu kita di dunia baru tersebut. Sehingga kita tidak terlampau menghabiskan waktu untuk trial and error. Pun ketika kita mau menata langkah di kehidupan yang baru. Seorang guru bisa memberi kita tinjauan dari arah yang berbeda, yang mungkin selama ini kita tidak pernah melihat dari sudut pandang tersebut (thanx to satu guru). Pengalaman adalah guru terbaik. Tapi pengalaman orang lain adalah guru terbaik bagi kita. Begitu satu guru yang lain pernah menasehati saya.

Setelah mencoba resep dari guru saya tersebut, akhirnya saya menemukan jawaban kenapa kita harus punya guru. Berikut tiga alasan yang ingin saya sharingkan dengan Anda semua :

1. Guru adalah kunci dari padepokan ilmu. Begitu kita berhasil memasuki padepokannya, ada segudang ilmu yang bisa kita dapatkan dari sana. Percaya saja, bukan hanya padepokan sang guru yang bisa kita masuki. Tapi beliau akan mengenalkan kita pada berbagai padepokan lainnya. Langsung ataupun tidak langsung. Sengaja ataupun tidak sengaja. Di balik sosok satu guru, ada ribuan guru yang ada di belakangnya. See…..???

(Saya sudah membuktikannya. Begitu berhasil memasuki padepokan satu guru, saya seperti dituntun untuk bertemu dengan banyak guru yang lain. Tentu saja semua kembali ke kita, mau memilih guru yang manakah yang akan kita jadikan sebagai sosok guru selanjutnya).

2. Guru adalah pemandu, yang akan menunjukkan arah yang benar pada kita. Guru yang akan menunjukkan dimana pijak kaki pertama mesti ditapakkan. Masalah terbesar bagi seorang pemula, di bidang apapun, adalah bingung bagaimana harus memulainya. Jika ada seseorang yang menunjukkan caranya, tentu lebih mudah kan? Guru juga yang akan mengarahkan kemana langkah selanjutnya harus diayunkan. Karena terkadang begitu kaki pertama sudah ditapakkan, kita kebingungan untuk menapak lebih jauh. Takut salah adalah masalah klasik yang dialami banyak orang. Jika ada pemandu, kenapa harus takut?

3. Guru adalah penjaga, yang akan menjaga agar kita tetap di rel yang telah ditetapkan. Ini sangat penting untuk kita. Karena seringkali berbagai permasalahan yang datang membuat kita lupa pada arah tujuan yang telah kita tetapkan. Coba bayangkan, seandainya ada sepuluh masalah sekaligus yang datang pada kita dan semuanya menuntut untuk segera diselesaikan, masihkah kita ingat pada impian kita? Di saat seperti inilah peran guru menjadi sangat penting. Sangat beruntung jika kita berhasil menemukan guru yang cerewet mengingatkan kita. Ada kalanya memang kita merasa terganggu dengan kecerewetan tersebut. Tapi percaya saja, satu ketika kita akan mengucapkan terima kasih atas kecerewetan Sang guru tersebut.

Saya kira masing-masing kita punya alasan. Anda mau menambahkan alasan lain? Monggo, dipersilahkan…….

Catt : terima kasih untuk Para Guru…..


Selengkapnya...